Cara Membuat Jingle Iklan – 3 Bagian Penting yang Harus Anda Ketahui

Apakah Anda pernah membuat jingle iklan? Atau mungkin Anda pernah mengikuti kompetisi membuat jingle iklan? Atau Anda sama sekali belum tahu tentang cara membuat jingle iklan?

Sebagai seorang musisi independen, Anda harus pintar-pintar mencari sumber pemasukan. Menurut pengalaman saya, salah satu sumber penghasilan tertinggi bagi seorang musisi adalah membuat jingle. Dengan menawarkan jasa pembuatan jingle, Anda bisa mendapat pemasukan yang besar.

Lalu bagaimana caranya saya membuat jingle?

Sayangnya, masih sedikit musisi Indonesia yang mengembangkan skill cara membuat jingle iklan. Sebagian besar musisi masih terpaku dengan pola pikir “menjadi rock star”. Mereka masih berpikir untuk terkenal dan kaya raya dengan menjadi artis sebuah major label.

Sementara itu, musisi pembuat jingle di Indonesia bisa dibilang masih sedikit. Hal ini berarti masih terbuka kesempatan lebar untuk membangun penghasilan dari membuat jingle iklan – bagi musisi yang menginginkannya. Kalau perjalanan Anda menjadi artis masih lambat atau stagnan, tidak ada salahnya membuka penghasilan tambahan dengan menawarkan jasa jingle iklan, bukan?

Jika Anda ingin belajar cara membuat jingle, berikut ada penjelasan tentang 3 bagian paling dasar dari sebuah iklan. 3 bagian tersebut adalah dialog, musik, dan efek (sering disingkat DME). Hal ini akan membantu Anda lebih memahami kedudukan dan peran musik dalam sebuah iklan:

1. Dialog

Sebagian besar iklan memiliki dialog. Dialog adalah percapakan yang terjadi di antara tokoh-tokoh yang ditampilkan iklan tersebut.

Contohnya iklan Bodrex Extra berikut. Dialog yang terjadi adalah monolog yang diucapkan sang pembawa berita, serta dialog dengan tokoh pengusaha.

Ketika membuat jingle iklan, ada 2 kemungkinan bagi Anda:

  1. Anda menerima projek dimana sudah ada dialognya (Anda tinggal menambah musik)
  2. Pihak agensi iklan meminta Anda juga membuat (merekam) dialog para tokohnya

Tentunya, tidak semua iklan memiliki dialog. Ada iklan-iklan yang menjual produknya dengan hanya memunculkan gambar-gambar untuk menggugah emosi konsumennya. Tetapi, sebagian besar iklan mengandung dialog, terutama iklan-iklan Indonesia.

Kenapa hal ini penting agar Anda ketahui?

Karena kalau dari agensi iklan meminta Anda untuk merekam dialognya, berarti Anda akan membutuhkan voice over talent. Tentunya menyewa voice over talent dan proses rekamannya membutuhkan biaya ekstra dari sisi Anda. Anda harus memasukkan faktor ini ketika menentukan penawaran harga pembuatan jingle.

2. Musik

Disinilah sebagian besar letak pekerjaan Anda sebagai komposer untuk jingle iklan. Musik yang dimaksudkan disini ada 2 macam, dan masing-masing punya kebutuhan spesialnya tersendiri.

Dalam iklan, Anda akan diminta membuat salah satu dari 2 macam musik yaitu soundtrack atau scoring.

  1. Soundtrack adalah musik yang diputar dari awal sampai akhir iklan. Jenis musik seperti inilah yang benar-benar disebut jingle, karena ada melodi dan nyanyiannya. Contoh iklan dengan musik jingle adalah salah satu iklan favorit saya, “Fruitaman”:


  2. Scoring adalah musik yang mengikuti pergerakan gambar. Apa yang terjadi di layar, musiknya harus mengikuti, terlepas dari bar, ketukan, melodi, dan sebagainya. Contoh iklan dengan musik scoring adalah “Oskadon Kung Fu”:


Anda harus mendapatkan kejelasan dari agensi iklan, apakah musiknya berupa jingle (soundtrack) atau scoring. Karena kalau jingle, berarti Anda butuh singer talent, yang berarti ada biaya ekstra untuk menyewanya. Kalau scoring, ada kemungkinan gambarnya berubah setelah Anda buat musiknya, jadi Anda harus siapkan biaya untuk revisi musik.

Bisa Anda lihat, plus minus masing-masing jenis musik ada dimana?

3. Sound effect

Elemen ke-3 dalam sebuah iklan selain dialog (yang paling penting) dan musik adalah efek suara atau sound effect. Sound effect ini pun ada 2 jenisnya:

  1. Sound effect berbentuk foley, yaitu suara-suara yang “normal” seperti suara ketukan di pintu, mobil menyala, hujan, anak kecil tertawa, dan sebagainya. Suara-suara ini harus Anda masukkan sesuai permintaan agensi iklan karena biasanya mereka tidak merekamnya ketika syuting (walau kadang-kadang ya).
  2. Sound effect berbentuk special effect, yaitu suara-suara “abnormal” seperti ledakan gunung berapi, gempa bumi, suara pelangi muncrat dari wafer raksasa, dan sebagainya. Seringkali pihak agensi akan meminta Anda membuat suara-suara yang bombastis untuk mendramatisir visual iklannya.

Kalau Anda diminta menambah sound effect, Anda membutuhkan sound effect library yang cukup luas. Untungnya, suara-suara seperti ini sudah banyak tersedia, baik yang berbayar ataupun yang gratis seperti di http://freesound.org.

Apa manfaatnya Anda tahu ke-3 hal ini?

Dalam lebih dari separuh job yang Anda temui, agensi iklan dan klien tidak bisa menyampaikan apa yang mereka inginkan secara jelas. Beberapa permintaan “aneh” yang pernah saya temui:

  1. “Tolong pitch nyanyinya dinaikin”. Ternyata maksudnya level vokalnya diperjelas.
  2. “Tolong beatnya dibuat lebih cepat”. Ternyata maksudnya buat musiknya lebih berdinamika.

Dan banyak kasus-kasus lain dimana sang pembuat jingle (Anda) harus pandai menerjemahkan apa maksud kata-kata agensi atau klien. Dengan memahami ke-3 bagian cara membuat jingle iklan di atas, Anda akan lebih bisa menangani permintaan-permintaan yang aneh dengan tenang.

Semakin banyak permintaan yang bisa Anda tangani, semakin senang klien Anda – semakin banyak job yang mengalir ke arah Anda!

Tetap Smart Hits!

Istilah mesin pencari:

  • contoh jingle
  • cara membuat jingle iklan
  • Membuat jingle
  • cara bikin jingle
  • bagaimana cara membuat jingle
  • contoh jingle iklan
  • sound effect gempa bumi
  • membuat jingle iklan
  • contoh jingle produk
  • Scoring adalah

Chorus Itu Terlalu Singkat Untuk Disia-siakan, Jendral!

Bulan Juli ini sedang ada banyak kompetisi musik yang digelar perusahaan-perusahaan dan festival musik, terutama lomba jingle seperti Lomba Jingle Ponsel IMO. Satu hal yang saya temukan menarik dari pengalaman saya terlibat pembuatan 50+ jingle adalah seberapa jarangnya musisi-musisi dalam negeri yang mendalami teknik komposisi musik untuk jingle. Jingle memiliki kebutuhan khasnya tersendiri, terutama untuk jingle iklan televisi (disebut TVC atau Television Commercial oleh praktisi industri iklan) yang dibatasi durasi biasanya 60 detik, atau 30, 15, bahkan 5 detik.

Mendengar karya peserta lomba Jingle Ponsel IMO (yang bisa teman-teman dengar di: http://www.arenamusik.com), saya setengah terkejut (dan setengah tidak) mendengar banyak yang masih menulis jingle seperti menulis lagu biasa: intro yang panjang, lirik yang mengulur-ulur, dan bagan bait sebelum reff. Padahal, waktu jingle sangat lebih singkat dibanding waktu lagu biasa – durasi 60 detik harganya sangat mahal ketika tayang di saluran-saluran televisi ternama, terutama di waktu prime time. Apakah tim pemasaran perusahaan akan menganggarkan puluhan juta untuk sebuah iklan 60 detik dimana 15 detik pertama digunakan hanya untuk intro dengan chord C – G – Am – F?

Berpikir Singkat dan Padat

Kita sebagai penulis lagu bisa belajar banyak dari komposisi musik jingle. Karena jingle durasi sangat singkat, seorang komposer jingle harus bisa efisien menyampaikan apa yang ingin disampaikan perusahaan (biasanya problema konsumen, kemudian solusi yang disediakan produk, kemudian tagline atau slogan atau fitur khusus produk) semuanya dalam waktu yang disediakan (belum ditambah kalau ada voice over, di tengah dan di akhir!). Proses berpikir singkat dan padat dalam penyampaian pesan ini sangat bagus untuk kita terapkan ke gubahan-gubahan kita sendiri.

Contohnya, ketika kita menulis bagian Chorus. Sebenarnya, prinsip efisien ini berlaku untuk setiap bagian lagu (dan secara garis besar, berlaku untuk semua hal dalam hidup), tetapi kita memilih Chorus karena Chorus merupakan bagian lagu yang (seharusnya) paling diingat pendengar kita. Apakah teman-teman merasa Chorus dalam lagu teman-teman masih terdengar monoton, biasa-biasa saja, atau kurang menendang?

Solusinya bisa saja terletak di pemangkasan Chorus – yaitu membuatnya lebih ringan dan padat bergizi. Karena Chorus adalah bagian yang bertugas menyentuh pendengar, biasanya digunakan lirik yang lebih sedikit dibandingkan bagian Verse. Juga, Chorus adalah tempat kita merepetisi judul lagu atau ide utama dari lagu, sehingga semakin terbatas tempat untuk lirik lain.

Kalau teman-teman merasa lagu sendiri masih terdengar kurang sempurna, coba pangkas bagian Chorus, atau terapkan prinsip berpikir seperti komposer jingle pada bagian-bagian yang terlalu panjang (biasanya terjadi pada band rock yang mengulang intro sepanjang 8 bar 2 kali, padahal isinya sama). Sama seperti kita, para pendengar kita juga sibuk dan punya urusan masing-masing, jadi berikanlah mereka karya yang padat bergizi. Karena, hidup terlalu singkat untuk disia-siakan mendengar lagu yang kepanjangan, Jendral!

Istilah mesin pencari:

  • komposisi lyrik bait rap
  • belajar bagian bagian lagu chorus dan reff
  • part buat lagu sebelum reff
  • lomba bikin jingle lagu iklan
  • lirik yang pas untuk jingle perusahaan
  • lagu karangan 8 bait
  • kepanjangan reff dalam lagu
  • kepanjangan reff
  • Contoh lagu satu bait
  • satu bait syair lagu seberapa